
KATURI NEWS – Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar yang menargetkan fasilitas militer Iran dalam beberapa hari terakhir. Operasi tersebut melibatkan penggunaan pesawat pengebom siluman jenis Northrop Grumman B-2 Spirit yang menjatuhkan puluhan bom penetrator untuk menghantam peluncur rudal balistik yang diklaim berada di bawah tanah.
Informasi mengenai operasi tersebut disampaikan oleh Komandan United States Central Command atau CENTCOM, Brad Cooper, dalam konferensi pers di Pentagon pada Kamis (5/3). Menurut Cooper, bom yang digunakan dalam serangan tersebut memiliki berat hampir satu ton dan dirancang khusus untuk menembus lapisan tanah atau beton sebelum meledak di dalam target.
Ia menjelaskan bahwa target utama serangan adalah sistem peluncur rudal balistik milik Iran yang diperkirakan disimpan di fasilitas bawah tanah. Senjata jenis penetrator dipilih karena mampu menghancurkan bunker atau fasilitas militer yang dibangun dengan perlindungan tebal.
Dalam keterangannya, Cooper mengatakan bahwa operasi militer Amerika Serikat berlangsung secara intensif selama tiga hari terakhir. Dalam kurun waktu sekitar 72 jam, pasukan udara AS disebut telah menyerang hampir 200 sasaran militer di berbagai wilayah Iran.
Sebagian dari target tersebut berada di sekitar Teheran, ibu kota Iran. Wilayah tersebut dianggap memiliki sejumlah fasilitas militer strategis yang berkaitan dengan sistem pertahanan serta kemampuan rudal balistik negara tersebut.
Serangan udara ini menjadi bagian dari operasi militer yang lebih luas yang dilaksanakan oleh Amerika Serikat untuk menekan kemampuan militer Iran. Selain serangan terhadap fasilitas darat, operasi juga mencakup peningkatan aktivitas militer terhadap kekuatan angkatan laut Iran di kawasan perairan strategis.
Cooper mengungkapkan bahwa pasukan AS juga telah menargetkan armada laut Iran dalam operasi terpisah. Ia menyebut bahwa jumlah kapal Iran yang dihancurkan terus bertambah seiring berlanjutnya operasi militer tersebut.
Menurut Cooper, sebelumnya Presiden Donald Trump sempat menyampaikan bahwa militer Amerika Serikat telah menenggelamkan 24 kapal milik Iran. Namun perkembangan terbaru menunjukkan angka tersebut kini telah meningkat.
“Belum lama ini, Anda mungkin pernah mendengar Presiden mengatakan kami telah menenggelamkan 24 kapal. Saat itu memang benar. Kini jumlahnya telah melampaui 30 kapal,” kata Cooper dalam konferensi pers tersebut.
Penggunaan pesawat pengebom siluman dalam operasi ini menunjukkan tingkat eskalasi militer yang cukup signifikan. Pesawat B-2 dikenal sebagai salah satu pesawat pengebom strategis paling canggih yang dimiliki Amerika Serikat. Teknologi siluman yang dimilikinya memungkinkan pesawat tersebut menembus sistem pertahanan udara lawan dengan tingkat deteksi yang sangat rendah.
Selain itu, pesawat ini mampu membawa berbagai jenis persenjataan berat, termasuk bom penghancur bunker yang dirancang untuk menargetkan fasilitas militer yang berada jauh di bawah permukaan tanah. Senjata jenis ini biasanya digunakan untuk menghancurkan gudang senjata, pusat komando, atau instalasi militer yang dilindungi lapisan beton tebal.
Operasi militer yang berlangsung selama beberapa hari terakhir ini menandai meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Serangan terhadap fasilitas militer strategis dan kapal angkatan laut Iran menunjukkan bahwa konflik antara kedua pihak tidak hanya terjadi di darat, tetapi juga meluas ke wilayah udara dan laut.
Hingga saat ini belum ada rincian resmi mengenai dampak kerusakan dari seluruh target yang diserang. Namun pihak militer Amerika Serikat menyatakan bahwa operasi tersebut ditujukan untuk melemahkan kemampuan militer Iran, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan dan penggunaan rudal balistik.
Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah diperkirakan masih akan menjadi perhatian dunia internasional, mengingat setiap perkembangan militer antara kedua negara berpotensi memengaruhi stabilitas regional secara lebih luas.
