
KATURI NEWS – Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali mengalami erupsi pada Senin malam, 9 Februari 2026. Letusan tersebut menghasilkan kolom abu vulkanik yang teramati setinggi sekitar 900 meter di atas puncak.
Peristiwa ini menambah daftar aktivitas vulkanik Semeru yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan dinamika erupsi secara berkala. Meski demikian, otoritas pemantauan gunung api terus memantau situasi dan memberikan rekomendasi kepada masyarakat untuk mengurangi risiko.
Erupsi Terjadi Senin Malam
Berdasarkan laporan resmi dari Pos Pengamatan Gunung Semeru, erupsi terjadi pada pukul 18.32 WIB. Petugas pengamatan, Liswanto, menjelaskan bahwa letusan tersebut terekam jelas dalam pengamatan visual.
“Terjadi erupsi Gunung Semeru pada hari Senin, 9 Februari 2026, pukul 18.32 WIB,” ujarnya dalam laporan yang disampaikan kepada pihak terkait.
Kolom abu yang muncul teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang. Arah sebaran abu dilaporkan mengarah ke utara. Pada saat laporan dibuat, aktivitas erupsi masih berlangsung, menunjukkan bahwa tekanan di dalam gunung masih aktif.
Status Gunung Semeru Masih Siaga
Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Semeru berada pada Level III atau Siaga. Status ini menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik berada pada tingkat yang memerlukan kewaspadaan tinggi.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting kepada masyarakat dan pihak terkait untuk meminimalkan potensi dampak erupsi.
Salah satu rekomendasi utama adalah larangan melakukan aktivitas di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Zona Berbahaya yang Harus Dihindari
Selain larangan di sektor tenggara, masyarakat juga diimbau untuk tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Area tersebut dinilai berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar.
Menurut PVMBG, aliran lahar dan material vulkanik berpotensi menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak, terutama melalui jalur sungai yang menjadi aliran alami material erupsi.
Imbauan ini penting karena dalam beberapa erupsi sebelumnya, aliran awan panas dan lahar sering mengikuti jalur sungai, yang dapat membawa material vulkanik dengan kecepatan tinggi.
Karakteristik Gunung Semeru
Gunung Semeru dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Gunung dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut ini memiliki karakteristik erupsi yang relatif sering, meskipun sebagian besar berskala kecil hingga menengah.
Aktivitas erupsi Semeru umumnya berupa letusan eksplosif kecil yang mengeluarkan abu vulkanik, disertai guguran lava dan material pijar di sekitar kawah.
Karena sifat aktivitasnya yang cukup rutin, masyarakat di sekitar lereng Semeru sudah cukup familiar dengan pola erupsi. Namun demikian, potensi bahaya tetap tinggi, terutama ketika terjadi peningkatan aktivitas secara tiba-tiba.
Dampak Potensial Erupsi
Erupsi gunung api dapat menimbulkan berbagai dampak, baik langsung maupun tidak langsung. Dampak langsung antara lain hujan abu, aliran lahar, dan awan panas.
Sementara dampak tidak langsung dapat berupa gangguan kesehatan akibat abu vulkanik, gangguan transportasi, serta kerusakan lahan pertanian.
Dalam kasus Semeru, hujan abu biasanya menjadi dampak yang paling sering dirasakan oleh masyarakat di wilayah sekitar, tergantung pada arah angin.
Karena itu, warga diimbau untuk selalu menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut jika terjadi hujan abu.
Pentingnya Kesiapsiagaan Masyarakat
Badan penanggulangan bencana dan aparat setempat terus mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana.
Kesiapsiagaan tersebut meliputi pemahaman terhadap jalur evakuasi, mengikuti informasi resmi dari otoritas, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Dalam situasi erupsi, informasi yang akurat sangat penting agar masyarakat dapat mengambil langkah yang tepat dan tidak panik.
Pemantauan Terus Dilakukan
Petugas pengamatan gunung api terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap aktivitas Semeru. Pemantauan dilakukan melalui pengamatan visual, seismik, dan berbagai instrumen lainnya.
Data yang diperoleh dari pemantauan tersebut menjadi dasar bagi PVMBG untuk menentukan status gunung serta mengeluarkan rekomendasi bagi masyarakat.
Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan kesiapan jika terjadi peningkatan aktivitas yang lebih signifikan.
Peran Informasi dan Edukasi
Para ahli kebencanaan menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat yang tinggal di kawasan rawan gunung api. Pemahaman mengenai tanda-tanda erupsi, potensi bahaya, dan langkah penyelamatan dapat membantu mengurangi risiko korban jiwa.
Indonesia sebagai negara dengan banyak gunung api aktif memang memiliki tantangan tersendiri dalam mitigasi bencana. Namun dengan sistem pemantauan yang semakin baik serta kesadaran masyarakat yang meningkat, risiko dapat ditekan seminimal mungkin.
Kesimpulan
Erupsi Gunung Semeru pada 9 Februari 2026 dengan kolom abu setinggi 900 meter menjadi pengingat bahwa aktivitas vulkanik di Indonesia merupakan fenomena alam yang harus selalu diwaspadai.
Dengan status Siaga yang masih berlaku, masyarakat di sekitar gunung diimbau untuk mematuhi seluruh rekomendasi dari PVMBG, terutama terkait larangan aktivitas di zona berbahaya.
Pemantauan terus dilakukan oleh petugas, sementara kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor penting dalam mengurangi dampak erupsi. Informasi yang akurat dan kepatuhan terhadap imbauan resmi diharapkan dapat menjaga keselamatan warga di sekitar kawasan Gunung Semeru.
