
KATURI BUSINESS – Nilai tukar rupiah menunjukkan pergerakan positif pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa. Mata uang Garuda tercatat menguat 36 poin atau sekitar 0,21 persen ke level Rp16.762 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp16.798 per dolar AS. Penguatan ini mencerminkan respons pasar terhadap sejumlah sentimen global dan domestik yang dinilai cukup kondusif bagi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Penguatan rupiah pada awal perdagangan umumnya dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama perkembangan ekonomi Amerika Serikat dan arah kebijakan moneter bank sentral negara tersebut. Ketika pelaku pasar menilai bahwa tekanan kenaikan suku bunga AS mulai mereda atau dolar AS mengalami pelemahan secara global, mata uang negara berkembang cenderung mendapatkan ruang untuk menguat. Dalam kondisi seperti ini, investor lebih berani menempatkan dana pada aset berisiko, termasuk obligasi dan saham di pasar negara berkembang.
Selain faktor global, sentimen domestik juga berperan penting dalam pergerakan rupiah. Stabilitas ekonomi makro Indonesia, inflasi yang relatif terkendali, serta komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar menjadi faktor yang mendukung kepercayaan pasar. Bank Indonesia selama ini menegaskan akan terus berada di pasar untuk menjaga keseimbangan antara mekanisme pasar dan stabilitas ekonomi, termasuk melalui intervensi di pasar valuta asing maupun pasar obligasi.
Pelaku pasar juga mencermati perkembangan neraca perdagangan Indonesia. Kinerja ekspor yang solid dan surplus perdagangan yang terjaga dapat memperkuat fundamental rupiah, karena meningkatkan pasokan devisa di dalam negeri. Di sisi lain, impor yang terkendali dan arus modal asing yang masuk ke pasar keuangan domestik turut membantu menjaga stabilitas nilai tukar.
Meski menguat pada pembukaan perdagangan, analis mengingatkan bahwa pergerakan rupiah masih berpotensi fluktuatif sepanjang hari. Sentimen pasar global dapat berubah dengan cepat, terutama jika muncul data ekonomi penting dari Amerika Serikat atau kawasan lain yang memengaruhi persepsi investor terhadap arah kebijakan moneter global. Selain itu, ketegangan geopolitik dan dinamika harga komoditas juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai karena dapat berdampak langsung pada arus modal dan nilai tukar.
Ke depan, pelaku pasar akan terus memantau langkah kebijakan bank sentral global, termasuk Federal Reserve, serta respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan. Dengan fundamental ekonomi yang relatif terjaga, rupiah dinilai memiliki peluang untuk bergerak stabil, meskipun tetap berada dalam tekanan ketidakpastian global.
Penguatan rupiah pada awal perdagangan ini menjadi sinyal positif bagi pasar, khususnya bagi pelaku usaha yang bergantung pada impor dan stabilitas biaya produksi. Namun demikian, kehati-hatian tetap diperlukan mengingat dinamika pasar keuangan global yang masih penuh tantangan.
