
KATURI NEWS – Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan Timur Tengah di tengah meningkatnya demonstrasi besar-besaran di Iran serta memanasnya ketegangan keamanan di kawasan tersebut. Langkah ini langsung memicu spekulasi luas mengenai kemungkinan aksi militer AS terhadap Teheran, terutama mengingat memburuknya hubungan kedua negara dalam beberapa waktu terakhir.
Pengerahan kapal induk kelas Nimitz itu dipandang sebagai sinyal kesiapsiagaan militer Washington. Kapal induk USS Abraham Lincoln dilengkapi puluhan pesawat tempur, sistem pertahanan canggih, serta ribuan personel militer. Kehadirannya di kawasan strategis Timur Tengah secara tradisional kerap dimaknai sebagai bentuk tekanan politik sekaligus pesan tegas bahwa AS siap melindungi kepentingannya maupun sekutunya di wilayah tersebut.
Situasi ini terjadi bersamaan dengan gelombang demonstrasi besar di Iran yang dipicu oleh berbagai faktor domestik, mulai dari tekanan ekonomi, inflasi, hingga ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah. Di sisi lain, ketegangan regional juga meningkat akibat konflik di berbagai titik Timur Tengah serta persaingan pengaruh antara kekuatan global dan regional.
Jika AS benar-benar melancarkan serangan militer terhadap Iran, langkah tersebut sejatinya bukan kali pertama Washington melakukan operasi militer di negara tersebut. Empat dekade lalu, AS pernah menjalankan sebuah operasi rahasia yang berakhir dengan kegagalan total dan menjadi salah satu episode paling memalukan dalam sejarah militernya di Timur Tengah.
Operasi tersebut dikenal dengan nama Operation Eagle Claw atau Operasi Cakar Elang, yang dilancarkan pada April 1980. Misi ini bertujuan menyelamatkan 52 warga negara AS yang disandera di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran sejak Revolusi Islam Iran pada 1979. Operasi ini dirancang secara kompleks, melibatkan pasukan elite, helikopter, dan pesawat angkut yang harus menembus wilayah Iran secara diam-diam.
Namun, misi tersebut berakhir tragis sebelum mencapai Teheran. Sejumlah helikopter mengalami kerusakan teknis akibat badai pasir di Gurun Tabas. Ketika pasukan memutuskan untuk membatalkan misi dan menarik diri, sebuah helikopter bertabrakan dengan pesawat pengangkut bahan bakar. Insiden itu menewaskan delapan personel militer AS dan menghancurkan beberapa unit alutsista di lokasi.
Kegagalan Operasi Eagle Claw tidak hanya berdampak secara militer, tetapi juga politik. Insiden tersebut mempermalukan AS di mata dunia dan memperkuat posisi Iran yang saat itu baru saja mengalami perubahan rezim. Di dalam negeri AS, kegagalan itu turut melemahkan posisi Presiden Jimmy Carter dan sering disebut sebagai salah satu faktor kekalahannya dalam pemilihan presiden tahun 1980.
Sejak saat itu, hubungan AS dan Iran terus diwarnai ketegangan, sanksi ekonomi, serta konfrontasi tidak langsung. Meski kedua negara tidak terlibat perang terbuka, rivalitas strategis mereka berlangsung melalui berbagai jalur, mulai dari diplomasi keras hingga konflik proksi di kawasan Timur Tengah.
Pengerahan USS Abraham Lincoln saat ini menimbulkan kekhawatiran bahwa eskalasi militer dapat kembali terjadi. Banyak pengamat menilai bahwa opsi militer tetap memiliki risiko besar, mengingat Iran memiliki kemampuan pertahanan yang jauh lebih kuat dibandingkan empat dekade lalu, serta jaringan sekutu regional yang luas.
Di sisi lain, AS juga menghadapi tekanan internasional untuk menahan diri dan mengutamakan jalur diplomasi. Konflik berskala besar dikhawatirkan tidak hanya berdampak pada Iran dan AS, tetapi juga mengguncang stabilitas Timur Tengah dan perekonomian global, terutama sektor energi.
Dengan latar belakang sejarah kegagalan militer di Iran, langkah AS kali ini menjadi sorotan tajam. Dunia internasional kini menunggu apakah pengerahan kekuatan tersebut akan berujung pada aksi nyata atau sekadar menjadi alat tekanan strategis di tengah situasi geopolitik yang semakin kompleks.
