
KATURI NEWS – Operasi dramatis yang dilakukan Amerika Serikat untuk menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro awal Januari 2026 tidak hanya mengguncang Amerika Latin, tetapi juga memberikan efek psikologis pada rezim tertutup Korea Utara. Menurut wawancara seorang mantan diplomat Korea Utara yang kini berada di Korea Selatan, peristiwa tersebut dipandang sebagai skenario terburuk yang mungkin menghantui pikiran pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.
Lee Il-kyu, yang sebelumnya menjabat sebagai konselor politik Korea Utara di Kedutaan Besar Pyongyang di Kuba dari 2019 hingga 2023, menyatakan dalam wawancara dengan kantor berita AFP bahwa operasi kilat Washington di Caracas bisa menjadi “skenario mimpi buruk” bagi Kim Jong Un.
“Kim pasti merasakan bahwa apa yang disebut operasi ‘pemenggalan kepala’ benar-benar mungkin terjadi,” ujar Lee, merujuk pada ide tentang operasi yang menargetkan langsung pemimpin negara.
Istilah operasi pemenggalan kepala sendiri merujuk pada skenario di mana pasukan asing berupaya secara tiba-tiba menyingkirkan pemimpin suatu rezim — sebuah gambaran yang bagi banyak pemerintah autoriter adalah ancaman paling ekstrem terhadap kelangsungan kekuasaan mereka.
Operasi militer AS yang dimaksud terjadi awal Januari, ketika pasukan Amerika melakukan serangan mendadak dan berhasil menangkap Maduro di Caracas. Aksi itu mengejutkan dunia dan memicu kritik luas karena dinilai melanggar prinsip kedaulatan negara dan hukum internasional.
Reaksi di Pyongyang: Ketakutan dan Penyesuaian Keamanan
Lee menjelaskan bahwa langkah militer AS di Venezuela bisa memicu ketakutan di jajaran elit Pyongyang yang sangat berhati-hati dalam menjaga keamanan rezimnya. Menurutnya, sosok Kim kemungkinan besar akan melakukan “peninjauan menyeluruh terhadap seluruh sistem keamanannya dan langkah-langkah kontra jika terjadi serangan terhadap dirinya.”
Ketakutan ini bukan tanpa dasar dalam perspektif rezim Korea Utara. Negeri di Semenanjung Korea itu selama bertahun-tahun menuduh Amerika Serikat berusaha menggulingkan pemerintahannya dan telah menggunakan program nuklir serta rig-missile sebagai alat deterrent alias pencegah terhadap apa yang dianggap ancaman asing.
Kepekaan rezim terhadap ancaman luar juga diperkuat oleh narasi domestik yang ditekankan Pyongyang selama puluhan tahun: bahwa Washington tidak hanya merupakan rival strategis tetapi berpotensi berusaha melakukan intervensi langsung untuk mengganti kepemimpinan.
Dampak Global dari Intervensi Amerika di Venezuela
Operasi AS di Venezuela telah memicu respons internasional yang beragam. Beberapa negara mengecam keras tindakan Washington karena dinilai mencederai hukum internasional dan melanggar kedaulatan nasional negara berdaulat. Uni Eropa, misalnya, menekankan pentingnya prinsip kedaulatan dan penyelesaian damai dalam krisis politik lintas negara.
Sementara itu, ada juga kritik dari negara-negara seperti Korea Utara sendiri, yang melalui media resmi menggambarkan tindakan tersebut sebagai contoh lain dari apa yang mereka sebut sifat hegemonik Amerika Serikat.
Relevansi bagi Kebijakan Keamanan Korea Utara
Kekhawatiran yang diungkapkan Lee Il-kyu mencerminkan bagaimana rezim otoriter memperhatikan dinamika geopolitik global, terutama dalam konteks tindakan militer yang cepat dan tanpa banyak peringatan. Bagi Pyongyang, yang selama ini mempertahankan kebijakan keamanan ekstrem dan isolasionis, gambaran bahwa seorang pemimpin negara bisa ditangkap secara kilat oleh kekuatan asing adalah ancaman legitimasi yang serius.
Meski tidak ada indikasi langsung bahwa Washington memiliki rencana serupa terhadap Korea Utara, sensasi akibat operasi di Venezuela cukup kuat untuk mempengaruhi cara pandang pemerintahan Kim Jong Un terhadap ancaman eksternal dan kebijakan domestik.
