
KATURI NEWS – Situasi di Iran dilaporkan semakin mencekam di tengah gelombang kerusuhan yang meluas ke berbagai wilayah negara tersebut. Sebuah kelompok independen melaporkan bahwa ratusan pengunjuk rasa tewas dalam bentrokan dan penindakan aparat keamanan, sementara pemerintah Iran mengeluarkan pernyataan keras yang menyebut akan membalas jika negara itu diserang oleh Amerika Serikat (AS).
Informasi mengenai kondisi di lapangan hingga kini masih sangat terbatas. Pemerintah Iran dilaporkan memberlakukan pemadaman komunikasi secara luas di seluruh 31 provinsi, sehingga akses terhadap internet, media sosial, dan jaringan telekomunikasi lainnya menjadi sangat terbatas. Langkah ini membuat verifikasi independen atas peristiwa yang terjadi menjadi sulit dilakukan.
Menurut laporan Human Rights Activists News Agency (HRANA), sebuah organisasi pemantau hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, sedikitnya 544 orang dilaporkan tewas sejak kerusuhan pecah. Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan data sebelumnya yang mencatat 116 korban jiwa hingga akhir Sabtu (10/1/2026).
HRANA, seperti dikutip oleh Sky News, menyebutkan bahwa jumlah korban masih berpotensi bertambah. Lembaga tersebut mengaku telah menerima 579 laporan kematian tambahan yang saat ini masih dalam tahap verifikasi. Jika seluruh laporan tersebut dapat dikonfirmasi, maka total korban meninggal dunia akibat kerusuhan di Iran bisa mencapai 1.123 orang.
Pemadaman Informasi dan Kesulitan Verifikasi
Pemadaman komunikasi yang diberlakukan pemerintah Iran menjadi salah satu tantangan terbesar dalam memperoleh gambaran utuh mengenai situasi di dalam negeri. Aktivis dan kelompok pemantau HAM menyebutkan bahwa pembatasan akses informasi kerap digunakan untuk menekan penyebaran dokumentasi kekerasan dan membatasi koordinasi antarwarga.
Dengan minimnya laporan langsung dari lapangan, sebagian besar informasi saat ini bersumber dari jaringan aktivis, saksi mata yang berhasil mengirimkan data secara terbatas, serta laporan rumah sakit dan keluarga korban. Pemerintah Iran sendiri belum memberikan data resmi mengenai jumlah korban tewas maupun luka-luka.
Ketegangan Politik dan Ancaman Balasan
Kerusuhan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat. Pernyataan keras dari pihak berwenang Iran yang menyebut akan membalas jika terjadi serangan dari AS memperburuk situasi, sekaligus meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.
Pengamat internasional menilai bahwa tekanan eksternal dan instabilitas internal menciptakan kombinasi yang berbahaya. Di satu sisi, pemerintah berusaha mempertahankan kendali di dalam negeri, sementara di sisi lain Iran juga menghadapi tekanan politik dan keamanan dari luar.
Kekhawatiran Komunitas Internasional
Laporan meningkatnya jumlah korban jiwa memicu keprihatinan dari berbagai kalangan internasional. Organisasi hak asasi manusia mendesak adanya penyelidikan independen atas dugaan penggunaan kekerasan berlebihan terhadap pengunjuk rasa. Mereka juga menyerukan agar pemerintah Iran segera memulihkan akses komunikasi agar situasi dapat dipantau secara transparan.
Sejumlah negara Barat menyerukan penahanan diri dan mendesak semua pihak untuk menghormati hak asasi manusia, termasuk hak atas kebebasan berekspresi dan berkumpul secara damai. Namun, hingga kini belum ada indikasi bahwa pembatasan komunikasi akan dicabut dalam waktu dekat.
Situasi Masih Berkembang
HRANA menegaskan bahwa angka korban yang mereka rilis bersifat dinamis dan dapat berubah seiring proses verifikasi yang terus berjalan. Mereka juga memperingatkan bahwa kondisi sebenarnya di lapangan bisa lebih buruk dari yang tercatat, mengingat keterbatasan akses informasi dan risiko yang dihadapi para pelapor di dalam negeri.
Dengan eskalasi kerusuhan yang masih berlangsung dan ketegangan geopolitik yang belum mereda, situasi di Iran diperkirakan tetap tidak stabil dalam waktu dekat. Dunia internasional kini menunggu langkah lanjutan pemerintah Iran, baik dalam merespons tuntutan domestik maupun dalam menyikapi tekanan dan ancaman dari luar negeri.
