
KATURI NEWS – Ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung di Venezuela menarik perhatian pasar energi dunia. Di tengah situasi politik yang memanas setelah operasi militer Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, prediksi mengenai arah harga minyak dunia mengemuka dari sejumlah analis dan pakar industri. Salah satunya, Aris Azof, Ketua Umum Indonesia Gas Society, yang menyampaikan pandangannya tentang kemungkinan penurunan harga minyak global jika Amerika Serikat mengambil alih kendali sumber daya minyak Venezuela.
Konteks Geopolitik Terkini: Amerika Menangkap Presiden Venezuela
Beberapa media internasional mengonfirmasi bahwa pasukan Amerika Serikat melakukan operasi militer dan berhasil menangkap Presiden Nicolás Maduro serta istrinya di Venezuela — sebuah langkah yang memicu kecaman dari pemerintah Venezuela dan kekhawatiran di komunitas internasional terkait hukum internasional dan kedaulatan negara. Reuters dan AP News mencatat operasi ini sebagai bagian dari eskalasi konflik yang tidak hanya berdampak pada politik, tetapi juga sektor energi global.
Dalam perkembangan terkait, Presiden AS Donald Trump menyatakan keinginannya untuk mengakses dan menggunakan cadangan minyak Venezuela, bahkan menyebut rencana untuk meningkatkan keterlibatan perusahaan minyak AS dalam memperbaiki infrastruktur yang rusak di sana. Langkah ini dipandang oleh sebagian pihak sebagai usaha mengambil alih kendali produksi energi terbesar di dunia.
Cadangan Minyak Venezuela dan Potensi Produksi
Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, dengan sekitar 303 miliar barel—lebih tinggi dari negara-negara besar lain di OPEC — meskipun produksinya saat ini sangat rendah akibat penurunan investasi, kebijakan nasionalisasi, dan sanksi internasional.
Namun realitas industri saat ini menunjukkan bahwa produksi minyak Venezuela tetap jauh di bawah kapasitasnya. Menurut laporan, output minyak Venezuela berada di bawah satu juta barel per hari (bpd), jauh dari puncak sebelumnya yang mencapai lebih dari 3 juta bpd pada masa lalu — sebuah cerminan tantangan struktural yang masih harus diatasi.
Prediksi Aris Azof: Penurunan Harga Minyak Dunia
Aris Azof menilai bahwa seandainya Amerika Serikat berhasil menguasai sumber daya minyak Venezuela dan mampu meningkatkan produksinya secara signifikan, hal ini berpotensi menciptakan tekanan ke bawah pada harga minyak dunia dalam jangka menengah hingga panjang. Dengan peningkatan pasokan mentah dari Venezuela, tekanan pada kurva harga minyak global diperkirakan akan meningkat, yang secara logis bisa mendorong harga turun.
Ia menambahkan bahwa produksi saat ini masih sangat rendah—di bawah 1 juta BOPD—dan jika kemampuan produksi minyak itu kembali dioptimalkan di bawah pengaruh AS, hal tersebut secara teori dapat memperbesar pasokan global sehingga mendorong harga ke level yang lebih rendah.
Azof juga mencatat bahwa secara spesifik, dampak fluktuasi harga minyak terhadap Indonesia sendiri bisa bervariasi: dari sisi upstream, turunnya harga akan menekan pendapatan negara dari sektor hulu; tetapi downstream, konsumen dihilir justru bisa merasakan manfaat berupa penurunan beban subsidi bahan bakar.
Respon Pasar dan Realitas Harga Saat Ini
Namun, sineas pasar lain justru menunjukkan gambaran yang lebih hati-hati. Pemerintah Indonesia melalui pejabat ekonomi menyatakan bahwa eskalasi politik AS-Venezuela belum berdampak signifikan pada harga minyak global dalam jangka pendek. Harga minyak Brent dan WTI masih bergerak relatif stabil, dan belum terjadi lonjakan volatilitas tajam sejak operasi di Caracas.
Selain itu, analis ekonomi internasional juga memperingatkan bahwa sementara potensi produksi Venezuela sangat besar, kenaikan output minyak tidak akan terjadi secara instan. Infrastruktur yang rusak, kebutuhan investasi besar, serta ketidakpastian hukum bagi perusahaan asing merupakan hambatan utama. Peningkatan produksi yang sejati diperkirakan memerlukan waktu panjang dan investasi besar, sehingga dampaknya terhadap harga minyak global mungkin hanya terasa dalam jangka menengah hingga panjang—bahkan jika semua kondisi ideal terpenuhi.
Tantangan dan Faktor Penentu Harga Minyak
Beberapa faktor lain yang akan menentukan arah harga minyak dunia meliputi:
- Stabilitas politik di Venezuela setelah operasi militer AS, termasuk reaksi internasional dan kebijakan OPEC terhadap produksi.
- Kebijakan sanksi dan regulasi yang masih berlaku terhadap PDVSA dan sektor energi Venezuela.
- Investasi dan minat perusahaan minyak global untuk memulihkan ladang minyak yang rusak; pendekatan ini berisiko, mahal, dan memerlukan jaminan hukum kuat.
- Permintaan global terhadap minyak mentah, yang juga ditentukan oleh kondisi ekonomi dunia secara umum dan tren energi alternatif.
Kesimpulan — Antara Geopolitik dan Pasar Energi
Prediksi Aris Azof tentang potensi penurunan harga minyak dunia mencerminkan spekulasi yang didasarkan pada logika pasokan dan permintaan. Secara teori, jika AS benar-benar dapat mengakses dan mengaktifkan kembali produksi minyak besar Venezuela, tekanan penawaran bisa mendorong harga turun dalam jangka panjang. Namun kenyataannya, berbagai faktor struktural, geopolitik, dan ekonomi global membuat dampaknya tidak otomatis dan bukan jaminan penurunan harga yang cepat atau signifikan dalam waktu dekat.
Perkembangan berikutnya—termasuk respon OPEC, kebijakan AS terhadap investasi minyak, serta stabilitas politik di Venezuela—akan menjadi penentu utama arah pasar minyak global di bulan dan tahun mendatang.
