
KATURI NEWS – Kota Betlehem di Palestina kembali dipenuhi suasana haru dan suka cita saat perayaan Natal berlangsung dengan khidmat, setelah lebih dari dua tahun terakhir kehidupan masyarakatnya dibayangi dampak perang di Gaza. Kota yang dikenal sebagai tempat kelahiran Yesus Kristus ini menjadi sorotan dunia ketika ratusan jemaat berkumpul mengikuti misa Natal, sebuah momen yang dirasakan sangat emosional bagi umat Nasrani setempat.
Perayaan Natal di Betlehem tahun ini berlangsung sederhana namun penuh makna. Banyak jemaat terlihat berdiri atau duduk di lantai gereja karena keterbatasan ruang, mengikuti tradisi lama yang telah berlangsung turun-temurun. Kondisi ini tidak mengurangi kekhusyukan ibadah, justru menambah kesan mendalam bagi mereka yang hadir. Setelah bertahun-tahun hidup dalam ketidakpastian akibat konflik, misa Natal kali ini menjadi simbol harapan dan keteguhan iman.
Pada Rabu malam, 24 Desember, sekitar pukul 23.15 waktu setempat, suasana gereja mulai dipenuhi alunan musik organ yang menggema lembut. Musik tersebut menandai dimulainya prosesi sakral yang dinantikan jemaat. Puluhan pendeta memasuki gereja secara perlahan, disambut doa dan nyanyian rohani. Prosesi ini kemudian diikuti oleh Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, yang hadir untuk memimpin ibadah dan memberikan berkat kepada jemaat yang memadati gereja.
Kehadiran Kardinal Pizzaballa menjadi perhatian tersendiri. Dalam suasana yang penuh keheningan dan kekhidmatan, ia menyampaikan pesan damai dan pengharapan bagi umat Nasrani di Palestina serta masyarakat dunia. Misa Natal tersebut bukan hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga refleksi atas penderitaan panjang akibat konflik dan harapan akan masa depan yang lebih damai.
Momen perayaan Natal di Betlehem ini turut menyentuh hati masyarakat global. Video dan foto-foto misa yang beredar di media sosial mengundang respons emosional dari netizen berbagai negara. Banyak yang mengaku terharu melihat keteguhan iman jemaat di tengah keterbatasan dan situasi yang sulit. Kolom komentar dipenuhi ucapan selamat Natal, doa, serta pesan solidaritas untuk umat Nasrani di Palestina.
Netizen dari berbagai latar belakang agama dan kebangsaan turut menyampaikan dukungan moral. Mereka berharap agar perdamaian dapat segera terwujud di wilayah Palestina, sehingga masyarakat Betlehem dan sekitarnya dapat menjalani kehidupan tanpa bayang-bayang konflik. Ungkapan doa dan empati tersebut menjadi bukti bahwa perayaan Natal di Betlehem memiliki makna universal, melampaui batas agama dan negara.
Bagi warga Betlehem, Natal tahun ini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan simbol ketahanan dan harapan. Setelah bertahun-tahun menghadapi dampak perang, keterbatasan ekonomi, dan ketidakpastian keamanan, kebersamaan dalam misa Natal menjadi pengingat bahwa iman dan persaudaraan tetap hidup.
Perayaan Natal di kota kelahiran Yesus ini kembali menegaskan pesan utama Natal itu sendiri, yaitu damai, kasih, dan pengharapan. Di tengah dunia yang masih diliputi konflik, Betlehem mengirimkan pesan kuat bahwa harapan dapat tetap tumbuh, bahkan di tempat yang paling lama merasakan penderitaan.
