
KATURI NEWS – Negeri Tirai Bambu tengah menunjukkan tekadnya untuk menjadi kekuatan utama dalam eksplorasi ruang angkasa. Baru-baru ini, China berhasil mencatat 72 peluncuran orbit sepanjang tahun 2025, memecahkan rekor nasional sebelumnya yang ‘hanya’ 68 peluncuran pada tahun 2024.
Rekor Baru dan Signifikansinya
Pada 8 November 2025, China meluncurkan empat roket dalam satu akhir pekan. Dengan demikian, jumlah total peluncuran orbitalnya mencapai 72, melampaui rekor tahun sebelumnya sebanyak 68.
Angka ini menunjukkan percepatan yang cukup signifikan dalam aktivitas luar angkasa China, di mana berbagai misi — mulai dari peluncuran satelit komersial, eksperimen teknologi, hingga misi ke stasiun luar angkasa — berjalan secara intensif.
Mengapa pencapaian ini penting? Karena bukan sekadar angka banyak peluncuran, melainkan menunjukkan bahwa China serius dalam membangun infrastruktur luar angkasa, memperluas kapabilitas peluncuran, dan meningkatkan keandalan sistemnya. Hal ini memunculkan pertanyaan apakah China sedang bersiap untuk “melewati” banyak kekuatan tradisional lainnya di bidang antariksa.
Apa Saja yang Diluncurkan?
Peluncuran‐peluncuran tersebut mencakup berbagai jenis misi:
- Satelit komunikasi dan satelit konstelasi orbit rendah. Misalnya, pada 23 Januari 2025, China meluncurkan sebuah kelompok satelit terdiri dari 18 unit untuk konstelasi “Spacesail”.
- Roket-jenis baru atau dimodifikasi seperti Long March 6, Long March 11 serta peluncuran dari platform laut atau pelabuhan peluncuran alternatif. Ini menunjukkan diversifikasi teknologi peluncuran China.
- Misi luar angkasa yang lebih ambisius: contohnya misi antariksa ke asteroid (Tianwen‑2 yang diluncurkan 28 Mei 2025) menunjukkan bahwa perhatian China bukan hanya ke orbit Bumi saja.
- Misi ke stasiun luar angkasa China (Tiangong) yang sudah beroperasi, menunjukkan pembangunan jangka panjang.
Faktor Pendorong Akselerasi
Beberapa faktor yang memungkinkan China mempercepat jumlah peluncuran antara lain:
- Peningkatan kapasitas peluncuran: peluncuran dari berbagai lokasi, termasuk platform laut atau peluncuran modular, memungkinkan frekuensi lebih tinggi.
- Kombinasi sektor publik dan swasta: selain badan antariksa milik negara, sejumlah perusahaan swasta di China turut aktif dalam peluncuran, mempercepat eksekusi misi.
- Prioritas nasional: China memandang ruang angkasa sebagai bagian penting dari strategi nasional — baik untuk teknologi, keamanan nasional, maupun ekonomi antariksa.
- Teknologi yang semakin matang. Roket-seri seperti Long March terus diperbaiki dan memiliki catatan keberhasilan yang meningkat, walaupun masih ada tantangan.
Tantangan dan Catatan Penting
Meski angka 72 peluncuran impresif, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan:
- Keandalan: Meskipun banyak peluncuran berhasil, laporan menyebut bahwa kasus kegagalan tetap ada, terutama di kalangan peluncuran perusahaan baru.
- Kembali ke ruang angkasa dalam arti yang lebih dalam: Peluncuran satelit adalah satu hal, tetapi misi berawak ke Bulan, eksplorasi Mars, dan pembangunan stasiun antariksa jangka panjang adalah level yang berbeda. China mengarah ke sana, tetapi perjalanan masih panjang.
- Persaingan global dan geopolitik: Akselerasi China menciptakan tekanan bagi negara lain (termasuk AS, Eropa, Rusia) untuk memperkuat kapabilitas mereka. Laporan menyebut bahwa China bisa menyalip AS sebagai kekuatan antariksa dalam 5-10 tahun.
- Isu orbital dan sampah antariksa: Lebih banyak peluncuran berarti tantangan dalam pengelolaan lalu lintas orbital dan sampah luar angkasa, yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Implikasi untuk Industri dan Dunia
- Komersialisasi ruang angkasa: Dengan banyak satelit diluncurkan, China memperkuat posisi dalam layanan satelit, konektivitas global, perang angkasa, dan observasi Bumi.
- Keamanan nasional: Kapabilitas peluncuran yang tinggi memberi China fleksibilitas strategis — baik untuk pengamatan, militer, maupun antariksa sipil.
- Ekonomi antariksa: Akselerasi peluncuran memungkinkan China menciptakan ekosistem antariksa yang lebih matang — manufaktur roket, satelit, layanan data luar angkasa.
- Pengaruh geopolitik: China bisa menawarkan layanan peluncuran atau satelit ke negara lain, memperluas pengaruhnya melalui “jalur antariksa”.
- Kolaborasi vs persaingan: Beberapa negara akan memilih bekerja sama dengan China di sektor antariksa, sementara yang lain akan melihat China sebagai kompetitor utama.
Apa Selanjutnya untuk China?
China tampaknya tidak akan berhenti dengan 72 peluncuran saja. Beberapa target yang bisa diperkirakan:
- Meningkatkan jumlah peluncuran hingga mendekati target “lebih dari 100 peluncuran per tahun” seperti yang disebut dalam beberapa dokumen.
- Misi berawak ke Bulan, termasuk pendaratan manusia dan pembangunan pangkalan lunar.
- Pengembangan teknologi roket heavy-lift dan reusable (dapat digunakan ulang) untuk misi luar angkasa yang lebih jauh.
- Memperkuat konstelasi satelit global, seperti komunikasi, pemetaan, navigasi, dan layanan internet global.
- Perluasan peluncuran komersial dan internasional melalui kerjasama dengan negara-lain.
Kesimpulan
Rekor 72 peluncuran orbital yang dicapai China pada tahun 2025 merupakan simbol dari ambisi besar negara ini di ranah antariksa. Ini bukan hanya soal jumlah, tetapi juga soal arah strategis — teknologi, ekonomi, keamanan, dan geopolitik semuanya terlibat.
Meski masih ada tantangan dan belum semuanya sempurna, kecepatan China dalam memperkuat kapabilitas antariksa jelas mengubah lanskap global. Bagi dunia, ini adalah moment penting — di mana ruang angkasa semakin menjadi arena kompetisi sekaligus kolaborasi antarnegara.
Lalu, bagaimana negara-lain merespon? Bagaimana regulasi, keamanan antariksa, dan pelajaran yang bisa diambil Indonesia atau negara-lain di Asia Tenggara? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menjadi semakin relevan di tahun-tahun mendatang.
