
KATURI ENTERTAIN – Brad Pitt dan Angelina Jolie dulu dikenal sebagai salah satu pasangan paling berpengaruh di Hollywood—mulai berpacaran setelah film Mr. & Mrs. Smith (2005), menikah pada 2014 di sebuah properti di Prancis, dan kemudian bercerai setelah pengajuan Jolie pada 2016. Namun di balik kilau selebriti, muncul perselisihan yang melebar hingga bisnis dan aset bersama mereka.
Inti Sengketa
Pada awal 2022, Pitt mengajukan gugatan ke pengadilan Los Angeles terhadap Jolie terkait properti dan bisnis mereka di Prancis: yaitu Château Miraval—sebuah kebun anggur dan properti mewah di selatan Prancis yang pernah dibeli bersama-sama oleh keduanya pada 2008.
Menurut dokumen hukum, Pitt mengklaim bahwa ada “kesepakatan” antara mereka bahwa tidak akan ada penjualan kepemilikan properti/bisnis tanpa persetujuan bersama.
Namun Jolie kemudian diklaim oleh Pitt telah menjual sahamnya kepada perusahaan luar (termasuk pihak dari Rusia) tanpa persetujuan dari Pitt, melanggar kesepakatan tersebut dan menyebabkan kerugian bagi Pitt.
Pitt menuntut agar transaksi tersebut dinyatakan batal, dan dia menuntut kompensasi atas kerugian yang dialami. Sementara itu, Jolie sendiri menanggapi bahwa gugatan ini lebih merupakan upaya pengendalian dan tekanan terhadap dirinya, dan bahwa dia menolak syarat yang dibebankan oleh Pitt (termasuk Perjanjian Non-Pengungkapan atau NDA) dalam proses penjualan.
Kronologi Singkat
- 2008: Pitt dan Jolie membeli Château Miraval dengan total sekitar €25 juta (sekitar US$28 juta) — Pitt menyumbang ≈60%, Jolie ≈40%.
- 2014: Pasangan ini menikah di properti tersebut.
- 2016: Jolie mengajukan gugatan cerai; kemudian mulai perselisihan aset dan hak asuh anak.
- Oktober 2021: Menurut Pitt, Jolie menjual sahamnya di Miraval kepada perusahaan yang dikendalikan oleh oligark Rusia, tanpa memberinya kesempatan terlebih dahulu.
- Februari 2022: Pitt resmi mengajukan gugatan atas penjualan tersebut.
- 2024 dan seterusnya: Sengketa masih berlanjut, termasuk permintaan dokumen dan perselisihan emosional antara pihak-kedua.
Alasan Gugatan dan Tuntutan
Pitt mengklaim bahwa:
- Jolie melanggar kesepakatan tak tertulis mengenai penjualan bisnis bersama tanpa persetujuan.
- Dia menginvestasikan waktu, dana, dan tenaga besar untuk mengembangkan Miraval, sementara Jolie dinyatakan oleh gugatan sebagai “tidak aktif” dalam pengembangan bisnis tersebut.
- Transaksi penjualan oleh Jolie menyebabkan kerugian bagi dirinya dan tim bisnisnya, termasuk potensi hilangnya kontrol atas properti dan brand Miraval.
Sementara itu, Jolie membela diri dengan menyatakan bahwa tekanan syarat-syarat (termasuk NDA yang dianggap mengekang kebebasan berbicara) adalah bagian dari konflik yang lebih luas.
Dampak dan Implikasi
Kasus ini bukan hanya sekadar sengketa bisnis antara mantan pasangan selebriti, melainkan juga memunculkan berbagai poin penting:
- Hak atas kepemilikan bersama – bahwa kesepakatan tak tertulis antara pasangan bisa menjadi dasar litigasi ketika terjadi percekcokan aset.
- Transparansi bisnis – perselisihan menunjukkan pentingnya dokumen formal, persetujuan tertulis, dan kontrol penggunaan aset bersama.
- Dinamika pribadi & profesional – konflik ini memperlihatkan bagaimana hubungan pribadi bisa sangat mempengaruhi bisnis dan sebaliknya.
- Perlindungan pihak yang lebih “aktif” secara bisnis – kasus ini memperlihatkan bagaimana satu pihak bisa merasa dirugikan jika peran dan kontribusinya tidak diakui oleh pihak lain dalam aset bersama.
Catatan Mengenai “Rp 584 M”
Di beberapa laporan media Indonesia mungkin muncul konversi nilai gugatan menjadi rupiah (misalnya sekitar Rp 584 miliar), namun dalam dokumen resmi gugatan dari Pitt yang tersedia disebutkan angka AS$dalam puluhan juta. Tidak ditemukan publikasi yang bisa secara meyakinkan menunjukkan nilai gugatan persis Rp 584 miliar. Oleh karena itu, jika Anda melihat angka tersebut, perlu dicek tentang kurs yang digunakan dan apakah itu representasi kasar dari US$ kuantitas yang disebut dalam gugatan.
Kesimpulan
Sengketa antara Brad Pitt dan Angelina Jolie atas Château Miraval adalah kisah kompleks yang menggabungkan unsur cinta, bisnis, hak milik, dan konflik pasca-perpisahan. Meski secara formal mereka telah berpisah sebagai pasangan, warisan aset dan bisnis tidak serta-merta selesai bersamaan. Gugatan ini menjadi pengingat bahwa ketika unsur‐emosional dan finansial bercampur, hasilnya bisa sangat rumit dan panjang.
