
Rupiah Diproyeksikan Melemah ke Level Rp 16.700 – Rp 16.750: Analisis Ekonomi dan Faktor Pendorong
KATURI BUSINESS – Nilai tukar rupiah diperkirakan akan kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, 5 November 2025. Pengamat Ekonomi dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan rupiah akan berada pada kisaran Rp 16.700 hingga Rp 16.750 per dolar AS dengan kecenderungan melemah menjelang penutupan perdagangan.
“Untuk perdagangan besok (5/11), mata uang rupiah berpotensi fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.700 – Rp 16.750,” ujar Ibrahim dalam keterangannya pada Rabu (5/11/2025).
Proyeksi ini memperkuat pandangan bahwa tekanan eksternal masih cukup tinggi terhadap mata uang domestik, di tengah ketidakpastian global, kebijakan moneter Amerika Serikat, dan dinamika ekonomi kawasan Asia.
Faktor Eksternal yang Menekan Rupiah
Pelemahan rupiah tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kondisi global, terutama pergerakan dolar AS yang kembali menguat setelah adanya sinyal dari Federal Reserve (The Fed) bahwa suku bunga tinggi kemungkinan akan bertahan lebih lama.
Investor global kini menunggu rilis data tenaga kerja AS (Non-Farm Payroll/NFP) dan inflasi yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga selanjutnya. Ekspektasi bahwa The Fed belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat membuat dolar kembali menjadi aset pilihan aman (safe haven).
Ketika dolar menguat, investor cenderung menarik dananya dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini menyebabkan permintaan terhadap dolar meningkat, sehingga menekan nilai tukar rupiah.
Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi AS (US Treasury yield) juga turut memperburuk tekanan terhadap mata uang negara berkembang. Yield obligasi tenor 10 tahun AS yang bertahan di atas 4,5% membuat investor asing lebih tertarik menempatkan dana di aset berdenominasi dolar yang dianggap lebih aman dan menguntungkan.
Kondisi Ekonomi Domestik dan Respons Pasar
Dari dalam negeri, rupiah juga menghadapi tantangan dari defisit transaksi berjalan serta meningkatnya kebutuhan impor menjelang akhir tahun. Faktor musiman seperti permintaan dolar untuk pembayaran impor energi dan barang konsumsi turut memperlemah posisi mata uang nasional.
Meski demikian, Bank Indonesia (BI) diperkirakan tetap aktif menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi ganda—baik di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Namun, langkah intervensi ini membutuhkan cadangan devisa yang besar dan tidak dapat menjadi solusi jangka panjang jika tekanan eksternal terus berlanjut.
Di sisi lain, inflasi Indonesia yang relatif terkendali di kisaran 2,9–3,1% memberikan sedikit ruang bagi stabilitas harga domestik. Akan tetapi, tingginya perbedaan suku bunga antara BI Rate dan Fed Funds Rate tetap menjadi faktor pendorong aliran modal keluar (capital outflow).
Komentar Ibrahim Assuaibi: Rupiah Masih dalam Tekanan
Menurut Ibrahim, pergerakan rupiah yang fluktuatif mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar terhadap perkembangan global. Ia menilai bahwa meskipun secara fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, tekanan eksternal jangka pendek sulit dihindari.
“Sentimen global masih menjadi faktor utama. Kenaikan dolar AS yang ditopang ekspektasi suku bunga tinggi membuat investor berhati-hati di pasar keuangan domestik,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ibrahim menilai pelemahan rupiah saat ini masih dalam batas wajar dan belum menandakan adanya krisis nilai tukar. “Selama rupiah masih bergerak di bawah Rp 17.000 per dolar AS, kondisinya relatif aman. Namun jika dolar terus menguat dan menembus level psikologis tersebut, tekanan terhadap inflasi bisa meningkat,” tambahnya.
Dampak bagi Perekonomian Nasional
Pelemahan rupiah memiliki efek beragam terhadap perekonomian Indonesia. Di satu sisi, pelaku ekspor diuntungkan karena pendapatan mereka dalam dolar meningkat ketika dikonversi ke rupiah. Namun di sisi lain, pelaku impor dan sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi kenaikan biaya produksi.
Sektor energi, misalnya, akan merasakan dampak langsung karena Indonesia masih mengimpor sebagian besar kebutuhan bahan bakar minyak. Kenaikan harga impor dapat memicu tekanan inflasi, terutama jika perusahaan menyalurkan kenaikan biaya ke harga konsumen.
Selain itu, pelemahan rupiah juga meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri, baik pemerintah maupun swasta. Hal ini karena nilai pembayaran utang dalam dolar menjadi lebih mahal ketika dikonversi ke rupiah.
Namun, di tengah situasi ini, sektor pariwisata dan industri berbasis ekspor justru bisa menjadi penopang ekonomi. Rupiah yang lebih lemah membuat Indonesia lebih kompetitif di mata wisatawan mancanegara dan pembeli asing.
Langkah Antisipatif yang Diperlukan
Untuk menjaga stabilitas rupiah, pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan terus memperkuat koordinasi kebijakan moneter dan fiskal. Beberapa langkah yang dapat ditempuh antara lain:
- Memperkuat cadangan devisa melalui ekspor dan investasi asing.
- Mendorong substitusi impor untuk mengurangi ketergantungan pada barang luar negeri.
- Menjaga kepercayaan pasar dengan komunikasi kebijakan yang transparan dan konsisten.
- Menstimulasi sektor produktif domestik agar pertumbuhan ekonomi tidak terlalu bergantung pada pembiayaan eksternal.
Selain itu, pelaku usaha juga disarankan untuk melakukan hedging atau lindung nilai terhadap fluktuasi nilai tukar agar tidak terjebak dalam risiko kurs yang tinggi.
Kesimpulan
Prediksi pelemahan rupiah ke kisaran Rp 16.700 – Rp 16.750 per dolar AS yang disampaikan oleh pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi mencerminkan kondisi global yang masih penuh tekanan. Penguatan dolar AS, kebijakan moneter ketat The Fed, dan kebutuhan impor domestik menjadi kombinasi faktor utama yang menekan mata uang Garuda.
Meskipun demikian, kondisi makroekonomi Indonesia yang masih stabil, ditopang oleh inflasi terkendali dan pertumbuhan ekonomi di atas 5%, memberikan harapan bahwa pelemahan ini bersifat sementara. Selama koordinasi kebijakan berjalan baik dan fundamental ekonomi tetap kuat, rupiah berpeluang untuk kembali menguat pada akhir tahun.
