
KATURI BUSSINES – Harga emas global kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa pagi (28/10/2025), dengan spot emas menembus kembali ke level psikologis US$ 4.000 per ons dan sempat menyentuh titik terendah harian sekitar US$ 3.971 per ons. Penurunan ini dipicu oleh membaiknya sentimen risiko investor global setelah meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China, sekaligus menjelang keputusan suku bunga dari The Fed.
Berikut ini pembahasan mendalam mengenai kondisi saat ini, faktor-penyebab, dan prediksi analis yang layak diperhatikan.
Kondisi Pasar Saat Ini
- Emas sempat berada di atas US$ 4.000/ons, namun melemah setelah investor lebih memilih aset berisiko karena meredanya konflik geopolitik.
- Menurut analisis teknikal, level support penting berada di sekitar US$ 3.846,50 dan US$ 3.720,25, jika tekanan jual makin kuat.
- Di sisi lain, konsensus pasar sudah sangat memperhitungkan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps), sehingga fokus utama bergeser ke nada (tone) yang akan disampaikan oleh Ketua The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers setelah keputusan.
Apa yang Menekan Harga Emas?
Beberapa faktor yang mendorong emas untuk melemah saat ini adalah:
- Menurunnya permintaan safe-haven
Ketika ketegangan geopolitik mereda — dalam hal ini antara AS dan China — investor mulai kembali ke aset berisiko seperti saham, sehingga aliran ke emas sebagai aset pelindung mengalami tekanan. - Prospek kenaikan suku bunga atau penundaan pemangkasan
Emas adalah aset yang tak menghasilkan imbal hasil (non‐yielding asset). Jika suku bunga riil meningkat, peluang biaya kesempatan (opportunity cost) memegang emas akan naik, sehingga bisa menekan harga emas. - Penguatan dolar AS atau imbal hasil obligasi AS
Jika pasar memperkirakan The Fed akan lebih hawkish atau data ekonomi AS membaik, maka dolar dan imbal hasil obligasi dapat naik, yang biasanya menjadi negatif bagi harga emas.
Kenapa Masih Ada Potensi Kenaikan?
Meskipun tekanan jangka pendek cukup kuat, banyak analis tetap optimis bahwa emas memiliki potensi kenaikan jangka menengah hingga panjang. Beberapa catatan penting:
- Rumah riset besar seperti Goldman Sachs memproyeksikan harga emas bisa mencapai US$ 4.900 per ons pada akhir 2026.
- Menurut survei analis Reuters, harga rata-rata emas untuk tahun 2026 diperkirakan sekitar US$ 4.275 per ons, naik dari perkiraan sebelumnya yang jauh lebih rendah.
- Permintaan dari bank sentral, alokasi portofolio untuk emas, serta diversifikasi dari dolar menjadi faktor struktural yang mendukung.
Prediksi Menuju Keputusan The Fed
Menjelang keputusan The Fed, berikut skenario penting yang perlu diperhatikan investor:
- Jika The Fed memotong suku bunga dan nada konferensi pers terasa sangat dovish (mendukung), maka emas bisa kembali menguat dan berpotensi menembus level US$ 4.200-4.300.
- Namun bila The Fed menahan pemangkasan atau memberikan nada hawkish tentang inflasi dan ekonomi, maka emas bisa terkoreksi lebih jauh — support kunci di kisaran US$ 3.846 hingga US$ 3.720.
- Technical-wise, konsolidasi emas saat ini berada di rentang US$ 4.004 – US$ 4.161 per ons. Penutupan di atas US$ 4.161 bisa membuka jalur ke US$ 4.300. Sebaliknya, penutupan di bawah US$ 3.944 akan melemahkan prospek kenaikan jangka pendek.
Implikasi Bagi Investor di Indonesia
Bagi investor di Indonesia yang sedang mempertimbangkan emas lokal (batangan atau produk tabungan emas), beberapa hal ini perlu diperhatikan:
- Koreksi harga global bisa membuat harga emas domestik menjadi menarik sebagai peluang entry, namun jangan abaikan volatilitas jangka pendek.
- Karena rupiah bisa ikut berpengaruh terhadap harga emas lokal, perhatikan juga sentimen nilai tukar dan inflasi di dalam negeri.
- Emas sebagai instrumen lindung nilai (hedge) tetap relevan — terutama dalam konteks inflasi tinggi, ketidakpastian global, dan diversifikasi portofolio.
- Namun jangan mengandalkan emas sebagai satu-satunya “aset aman” — tetap penting kombinasi aset lain seperti saham, obligasi atau properti sesuai profil risiko.
Kesimpulan
Meskipun harga emas global untuk sementara mengalami tekanan dan menembus kembali bawah US$ 4.000 per ons, prospek jangka menengah-panjang tetap optimis. Keputusan The Fed beserta nada yang disampaikan akan menjadi katalis utama ke depan. Bagi investor, saat ini bisa dianggap sebagai momen menunggu — siap untuk peluang tetapi juga waspada atas risiko koreksi.
Dengan memahami skenario yang mungkin terjadi dan katalis utama yang mempengaruhi — suku bunga, inflasi, dolar, serta permintaan struktural — investor bisa mengambil posisi lebih bijak dalam memanfaatkan pergerakan emas ke depan.
