
Pergerakan modal asing dari dan ke Indonesia terus menjadi sorotan pelaku pasar dan pengambil kebijakan, terutama di tengah dinamika ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil. Berdasarkan data transaksi dari Bank Indonesia yang dicatat hingga 16 Oktober 2025, investor nonresiden mencatatkan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 16,61 triliun hanya dalam waktu sepekan pada periode 9–16 Oktober 2025.
Pelepasan dana asing dalam jumlah besar ini memberikan sinyal penting mengenai sikap investor global terhadap pasar keuangan Indonesia, baik di sektor saham, Surat Berharga Negara (SBN), maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Fenomena ini tentu tidak berdiri sendiri, melainkan berhubungan erat dengan berbagai faktor global dan domestik yang memengaruhi sentimen investor.
Penjualan Bersih di Pasar Saham dan SRBI
Sepanjang tahun 2025 hingga 16 Oktober, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih sebesar Rp 51,24 triliun di pasar saham. Jumlah ini mencerminkan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan, baik dari sisi pertumbuhan ekonomi, stabilitas nilai tukar, maupun faktor eksternal seperti kondisi ekonomi global dan arah kebijakan suku bunga di negara-negara maju, terutama Amerika Serikat.
Sementara itu, pasar SRBI mengalami tekanan yang jauh lebih besar. Investor nonresiden tercatat melakukan jual neto sebesar Rp 132,75 triliun di pasar ini. SRBI merupakan instrumen moneter jangka pendek yang digunakan Bank Indonesia untuk menyerap kelebihan likuiditas rupiah di pasar uang. Meski SRBI tergolong instrumen yang relatif aman, tekanan di pasar ini mengindikasikan adanya upaya pengurangan eksposur risiko oleh investor asing terhadap aset dalam denominasi rupiah.
Sinyal Positif dari Pasar SBN
Di tengah arus keluar modal asing di dua sektor utama tersebut, masih terdapat secercah harapan dari pasar Surat Berharga Negara (SBN). Sepanjang tahun ini, investor asing justru mencatatkan aksi beli bersih sebesar Rp 17,28 triliun di pasar SBN. Hal ini menandakan bahwa sebagian investor global masih melihat daya tarik jangka panjang dari instrumen utang negara, terutama dalam konteks pengelolaan fiskal Indonesia yang dinilai relatif sehat.
Namun demikian, nilai beli bersih ini belum cukup untuk menutup tekanan yang terjadi secara keseluruhan. Total arus keluar modal asing masih mendominasi pasar keuangan Indonesia secara umum.
Faktor Penyebab Arus Keluar Modal Asing
Beberapa faktor utama yang mendorong terjadinya aliran keluar modal asing dari Indonesia antara lain:
- Kebijakan Moneter Global
Bank sentral Amerika Serikat (The Fed) masih mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam upaya meredam inflasi. Hal ini menyebabkan imbal hasil (yield) obligasi AS tetap tinggi, sehingga menarik investor untuk menarik dananya dari negara berkembang, termasuk Indonesia. - Ketidakpastian Ekonomi Global
Ketegangan geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah dan perlambatan ekonomi Tiongkok, turut memberikan tekanan pada sentimen risiko global. Investor cenderung mengalihkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven), seperti dolar AS atau emas. - Volatilitas Nilai Tukar Rupiah
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menjadi salah satu pertimbangan investor asing untuk keluar dari pasar Indonesia. Nilai tukar yang tidak stabil meningkatkan risiko investasi, terutama pada instrumen berdenominasi rupiah. - Ketidakpastian Domestik Jelang Pemilu 2025
Situasi politik menjelang Pemilu Nasional pada 2025 turut menambah keraguan investor terhadap stabilitas kebijakan ekonomi di masa depan. Meski Indonesia dikenal relatif stabil secara politik, namun pergantian kepemimpinan selalu membawa ketidakpastian baru di mata pasar.
Dampak terhadap Ekonomi dan Pasar Keuangan
Arus keluar dana asing dalam jumlah besar dapat memberikan dampak langsung pada stabilitas pasar keuangan domestik. Melemahnya rupiah, meningkatnya volatilitas pasar saham, serta potensi naiknya imbal hasil obligasi negara menjadi beberapa konsekuensi yang patut diwaspadai.
Bagi Bank Indonesia dan pemerintah, fenomena ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Bank Indonesia mungkin perlu lebih aktif melakukan intervensi di pasar valas untuk menjaga nilai tukar, atau menyesuaikan kebijakan moneternya agar tetap menarik bagi investor global.
Kesimpulan
Arus keluar modal asing sebesar Rp 16,61 triliun pada pekan ketiga Oktober 2025 menambah deretan kekhawatiran mengenai stabilitas pasar keuangan Indonesia. Meski pasar SBN menunjukkan daya tahan, tekanan besar di pasar saham dan SRBI menunjukkan bahwa investor asing masih bersikap waspada terhadap kondisi ekonomi dan politik Indonesia dalam jangka pendek.
Ke depan, penting bagi pemerintah dan otoritas moneter untuk terus menciptakan iklim investasi yang kondusif, menjaga stabilitas fiskal dan moneter, serta memberikan kepastian kebijakan yang dapat mengembalikan kepercayaan investor global terhadap pasar keuangan nasional.
