
KATURI NEWS – Bencana angin puting beliung melanda Kota Denpasar, Bali, pada Rabu (21/1), menyebabkan puluhan rumah dan bangunan warga mengalami kerusakan. Berdasarkan data sementara, sebanyak 63 rumah dan bangunan terdampak akibat terjangan angin kencang yang datang secara tiba-tiba. Peristiwa ini terjadi di beberapa wilayah padat penduduk dan sempat menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.
Wilayah yang paling terdampak meliputi Desa Sidakarya, Kelurahan Kesiman, serta Desa Sanur Kauh. Ketiga kawasan tersebut dikenal sebagai area permukiman dengan aktivitas warga yang cukup tinggi. Angin puting beliung yang terjadi disertai hujan deras menyebabkan kerusakan pada bangunan rumah, fasilitas lingkungan, hingga tempat suci milik warga.
Sebagian besar kerusakan yang tercatat berada pada kategori ringan hingga sedang. Kerusakan paling umum ditemukan pada bagian atap rumah, seperti genteng yang terlepas atau beterbangan akibat terpaan angin. Selain itu, beberapa rumah mengalami kerusakan pada tembok, terutama bagian luar bangunan yang tidak mampu menahan tekanan angin kencang. Di sejumlah lokasi, pelinggih atau bangunan suci milik warga juga dilaporkan rusak.
Warga setempat mengungkapkan bahwa angin kencang datang secara mendadak dan berlangsung dalam waktu relatif singkat. Meski tidak berlangsung lama, kekuatan angin cukup besar hingga merusak struktur bangunan dan menumbangkan pepohonan di sekitar permukiman. Beberapa jalan lingkungan sempat tertutup akibat puing-puing atap dan ranting pohon yang berserakan.
Petugas dari instansi terkait langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan pendataan dan penanganan awal. Aparat desa bersama tim penanggulangan bencana melakukan asesmen guna memastikan tingkat kerusakan serta kebutuhan mendesak warga terdampak. Prioritas utama difokuskan pada pembersihan material bangunan yang membahayakan serta memastikan tidak ada korban jiwa akibat kejadian tersebut.
Hingga saat ini, tidak dilaporkan adanya korban meninggal dunia. Namun, sejumlah warga mengalami kerugian material dan harus melakukan perbaikan pada rumah mereka. Bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan cukup parah, upaya penanganan sementara dilakukan agar bangunan tetap aman untuk ditinggali, terutama jika cuaca buruk kembali terjadi.
Fenomena angin puting beliung di wilayah perkotaan seperti Denpasar menjadi perhatian serius. Meski Bali lebih dikenal dengan ancaman bencana hidrometeorologi seperti hujan lebat dan banjir, angin puting beliung juga berpotensi terjadi, terutama pada masa peralihan musim. Kondisi atmosfer yang tidak stabil dapat memicu terbentuknya awan cumulonimbus yang menghasilkan angin kencang dalam waktu singkat.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem. Warga diminta segera mengamankan barang-barang di luar rumah, memperkuat struktur atap, serta memangkas pohon yang berisiko tumbang. Selain itu, masyarakat diharapkan segera melaporkan jika terjadi kerusakan atau kondisi darurat agar dapat ditangani dengan cepat.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan bencana di tingkat komunitas. Koordinasi antara warga, aparat desa, dan instansi terkait dinilai sangat penting untuk meminimalkan dampak saat bencana terjadi. Edukasi mengenai tanda-tanda cuaca ekstrem dan langkah penyelamatan diri juga perlu terus ditingkatkan.
Dengan cuaca yang masih berpotensi tidak menentu, pemerintah daerah bersama lembaga terkait terus memantau perkembangan kondisi atmosfer. Diharapkan langkah mitigasi dan kesiapsiagaan yang dilakukan dapat mengurangi risiko serta dampak bencana serupa di masa mendatang, sehingga keselamatan dan kenyamanan warga tetap terjaga.
