
5 Kebiasaan Sepele yang Tanpa Disadari Dapat Merusak Kesehatan Jantung
KATURI HEALTH – Kesehatan jantung sering kali baru menjadi perhatian ketika gejala penyakit mulai muncul. Padahal, menjaga organ vital ini seharusnya dimulai sejak dini, bahkan dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang tak sadar bahwa kebiasaan sederhana yang dilakukan secara rutin bisa berdampak besar pada kesehatan jantung dalam jangka panjang.
Menurut dr. Dmitry Yaranov, seorang ahli transplantasi jantung asal Memphis, kebiasaan yang tampak sepele justru kerap menjadi pemicu utama gangguan jantung, kelelahan kronis, hingga menurunnya daya tahan tubuh. Ia menekankan bahwa menjaga kesehatan jantung tidak hanya tentang olahraga dan pola makan sehat, tetapi juga tentang kesadaran terhadap kebiasaan kecil yang sering diabaikan.
Berikut ini lima kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari dapat memperburuk kesehatan jantung Anda.
1. Kurang Tidur dan Pola Istirahat yang Tidak Teratur
Banyak orang menganggap tidur bisa “diganti” di akhir pekan, padahal tubuh tidak bekerja seperti itu. Tidur yang tidak cukup — baik dalam durasi maupun kualitas — dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, obesitas, dan penyakit jantung koroner.
Ketika tubuh kurang tidur, hormon stres seperti kortisol dan adrenalin meningkat. Kedua hormon ini membuat detak jantung lebih cepat dan menekan pembuluh darah, sehingga jantung bekerja lebih keras dari seharusnya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mempercepat kerusakan pada pembuluh darah dan memperbesar risiko serangan jantung.
Idealnya, orang dewasa membutuhkan waktu tidur 7–9 jam per malam dengan jadwal tidur yang konsisten. Hindari begadang berlebihan, kurangi konsumsi kafein di sore hari, dan ciptakan suasana kamar yang nyaman agar kualitas tidur lebih baik.
2. Terlalu Lama Duduk Tanpa Aktivitas Fisik
Gaya hidup modern membuat banyak orang menghabiskan sebagian besar waktunya duduk — baik saat bekerja di depan komputer, menonton televisi, atau bermain gawai. Kebiasaan ini, yang disebut sedentary lifestyle, menjadi salah satu faktor risiko utama penyakit jantung.
Saat tubuh jarang bergerak, sirkulasi darah melambat, kadar kolesterol jahat (LDL) meningkat, dan sensitivitas insulin menurun. Kombinasi ini dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis) serta memperburuk metabolisme tubuh.
Untuk mencegahnya, biasakan bangun dan bergerak setiap 30–60 menit sekali. Anda bisa berjalan sebentar, melakukan peregangan ringan, atau menggunakan tangga alih-alih lift. Aktivitas sederhana ini membantu menjaga tekanan darah dan denyut jantung tetap stabil.
3. Mengabaikan Kesehatan Mental dan Stres Kronis
Kesehatan mental memiliki hubungan yang erat dengan kondisi jantung. Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan, tubuh akan terus memproduksi hormon kortisol yang memicu peradangan dan tekanan darah tinggi.
Bukan hanya itu, stres sering membuat seseorang mengadopsi kebiasaan tidak sehat, seperti makan berlebihan, merokok, atau mengonsumsi alkohol. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut memperburuk fungsi jantung dan meningkatkan risiko gagal jantung di kemudian hari.
Mengelola stres bisa dilakukan dengan cara sederhana: rutin berolahraga, bermeditasi, mengatur pernapasan, atau melakukan hobi yang menenangkan pikiran. Menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi juga penting agar jantung tidak terus-menerus berada dalam tekanan.
4. Konsumsi Garam dan Makanan Olahan Berlebihan
Banyak orang tidak sadar bahwa asupan garam dalam makanan sehari-hari sering kali melebihi batas aman. Makanan cepat saji, camilan kemasan, dan saus instan mengandung kadar natrium yang sangat tinggi. Kelebihan garam dapat meningkatkan tekanan darah, yang pada akhirnya membebani kerja jantung.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan konsumsi garam tidak lebih dari 5 gram per hari, atau setara dengan satu sendok teh kecil. Sebaiknya, biasakan membaca label nutrisi pada kemasan makanan dan batasi konsumsi makanan olahan. Pilih makanan segar seperti sayur, buah, ikan, dan biji-bijian utuh yang lebih ramah bagi jantung.
5. Kurangnya Asupan Air dan Kebiasaan Mengonsumsi Minuman Manis
Tubuh yang kekurangan cairan akan memaksa jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah. Selain itu, konsumsi minuman manis seperti soda, kopi susu, atau teh kemasan dapat meningkatkan kadar gula darah dan risiko diabetes tipe 2 — salah satu faktor utama penyakit jantung.
Gantilah minuman manis dengan air putih, air kelapa, atau teh herbal tanpa gula. Pastikan tubuh tetap terhidrasi dengan baik, terutama saat beraktivitas fisik atau berada di cuaca panas.
Kesimpulan
Menjaga kesehatan jantung tidak selalu harus dengan langkah besar. Justru, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan hasil luar biasa dalam jangka panjang. Mulailah dengan memperbaiki pola tidur, mengurangi waktu duduk, mengelola stres, membatasi garam, serta mencukupi kebutuhan cairan harian.
Ingat, jantung bekerja tanpa henti setiap detik untuk menjaga kehidupan Anda. Memberinya perhatian melalui kebiasaan sehat adalah bentuk investasi terbaik untuk masa depan yang lebih panjang dan berkualitas.
